Hwaaaa... ! Mataku sebelah kananku timbilen.
![]() |
| Iieeeeeuy! |
Keesokan harinya rasanya makin gak nyaman. Wah, bisa dipastikan kalau ini emang timbilen. Terus aku ngaca deh, coba aku amatin. Aku pegang bagian kelopak mata atas, terus gantian bagian bawah. Kok yang sakit pas dipegang yang bagian bawah ya? Aneh. Timbilen kan biasanya pas bagian kelopak mata atas. Aku perhatikan lagi dengan seksama, terus aku tarik kelopak bawah mataku daaan... jegleeeeeerrrrrRR!
APAAN TUUUH?!
Pikiran buruk pun berdatangan. Jangan-jangan kanker, jangan-jangan tumor, jangan-jangan...
Aku bilang deh ke Ibuk, Ibuku pun mengambil inisiatif buat bawa aku ke dokter umum dulu.
Esoknya habis Maghrib aku dan Ibuku ke dokter buat berobat. Antri di dokter umum lumayan lama. Setelah dipanggil kami langsung masuk ke ruang dokter. Setelah duduk dokter langsung tanya apa keluhannya. "Ini dok", sambil langsung aku tunjukin mataku yang ada benjolannya itu. Dokternya ngambil senter terus diarahin ke mata kananku. Aku perhatikan wajah dokternya berubah jadi gak enak.
"Kayaknya sih harus operasi. Nanti di anestesi dulu. Tapi harus ke dokter mata buat diagnosa lebih jauh."
"Hah operasi?", tanyaku lirih. Padahal dalam hati tereak-tereak, "APAAAAH OPERASIIII KATANYAAAA?!".
"Iya nanti lihat dulu diagnosanya di dokter mata. Ini saya buatkan rujukan ke rumah sakit. Tergantung dokter mata mau diambil tindakan operasi apa hanya perlu obat saja."
Keluar dari ruang dokter rasanya lemes. Iya sih operasinya cuma operasi kecil, tapi denger namanya operasi agak ngeri juga.
Besoknya ke poliklinik mata di rumah sakit. Masih ditemeni Ibuk juga. Sumpaaah antrinya luaaamaaa. Pas udah dipanggil nomer urutnya, terus diperiksa sama dokter muda. Ditanyain apa keluhannya. Habis itu suruh nunggu di luar lagi karena dokter matanya belum datang. Nunggu lagi... tik... tok... boseen... lamaaa...
Setelah jutaan detik terlampaui dipanggillah namaku. Masuk lagi ke dalam ruang dokternya, masih ada beberapa pasien yang diperiksa. Seteah pasien sebelumku kelar, aku langsung duduk deket dokternya. Dokternya baca kertas yang tadi ditulis sama dokter mudanya. Agak deg-degan juga. Dokternya ngambil senter habis itu diarahin ke mata.
"Ohh, timbilen ini." Dokternya ngambil bolpen. "Tak kasih resep salep sama obat ya."
"Iya dok."
Dalam hati langsung, alhamdulillah, gak jadi operasi. Seneng, lega, dan bersyukur.
"Nanti sebelum dikasih salep dikompres sama air ya."
"Air hangat dok?"
"Iya."
Setelah dokternya selesai nulis resep, resepnya dikasihin, habis itu aku terimakasih sama dokternya dan menuju ke apotek rumah sakit.
Ngasih resep ke apotek, nunggu bentar, terus dapet deh obatnya. Obatnya kayak gini.
![]() |
| Cendo Xitrol |
![]() |
| Methylprednisolone |




sembuh kok. yang penting rutin aja.
BalasHapus