Selasa, 05 Agustus 2014

Benci yang Menyakiti

Aku emang udah jarang nyetatus di Facebook, tapi bukan berarti aku gak Facebook-an sama sekali. Semenjak aku ngehapus akun Instagram dan Twitter-ku aku jadi lebih sering main ke Facebook. Meskipun jarang ber-say hello dengan kawan-kawan di FB dan jarang post status, aku masih sering mantengin timeline. Salah satu page yang aku ikuti adalah page Darwis Tere Liye, seorang penulis novel terkenal. Sukaaaaa banget sama setiap post Pak Darwis! Setiap kalimatnya selalu ngena. Dan ini yang paling ngena,

Orang yang membenci kita, boleh jadi adalah orang yang paling banyak memikirkan kita. Tidak perlu dikonfirmasi ke orang itu. Karena rumus ini juga berlaku saat kita membenci orang lain.

- Tere Liye -
Gimana?
Kalau menurutku sih bener banget!
Jujur saja, beberapa waktu yang lalu aku benci banget dengan seseorang. Dia temanku, dulu kami teman dekat, teman satu geng lah kalau bisa dikatakan.

Entah mengapa tiba-tiba dia berubah karena suatu hal yang tidak aku tahu apa penyebabnya. Aku berusaha mencari tahu, tanya ke temen-temen yang lain, apa yang membuat ia bersikap dingin padaku. Aku sih tidak tahu pasti. Yaudah deh, aku biarin aja. Tapi lama kelamaan sikapnya malah semakin menjadi. Dia mulai merebut teman-temanku, secara perlahan dia menjauhkanku dari tema-teman satu geng.

Betapa menyebalkan!

Aku mulai membenci dan membenci... dan aku mulai kepo, sebenarnya apa sih salahku ke dia? Yah.. dan mulailah aku stalking status FB dia, dan benar saja! Aku yakin setiap status kebencian yang ia tulis waktu itu ditujukan padaku dan konyolnya... aku terprovokasi, membalas statusnya. Kalau kuingat-ingat lagi waktu itu aku memang bodoh sekali.

Lama kelamaan aku mulai merasakan kalau membenci orang itu benar-benar capek dan makan hati. Aku lelah. Ketika itu, aku baca post Pak Darwis di atas. Deg! Emang bener banget. Perlahan-lahan aku coba memaafkan, coba instropeksi. Butuh waktu memang.

Ketika mau ujian nasional, aku dengan besar hati menyalaminya, menangis dan minta maaf atas segala kesalahan yang aku buat. Walaupun sampai sekarang aku juga gak tahu sebenernya apa salahku, suwer aku gak tahu.

Sampai sekarang hubungan kami tidak kunjung kembali baik. Aku sudah bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi entah mengapa ia masih saja bersikap dingin padaku. Toh aku juga sudah minta maaf.

Kalau diingat-ingat aku masih ada sedikit rasa sakit hati. Aku tak tahu apa salahku, aku sudah mencoba bertanya apa salahku, aku minta maaf kepadanya walaupun aku tak tahu apa salahku, tapi dia bersikap seakan belum memaafkanku. Capek karena membenci, aku pun memutuskan untuk menjauh saja darinya. Kuhapus ia dari daftar perteman di FB-ku. Mungkin ia akan merasa lebih baik kalau aku menjauh darinya.

Setelah kejadian itu aku mencoba untuk jadi pribadi yang mudah memaafkan. Aku juga mencoba untuk bersikap EGP alias emang gua pikirin, aku gak peduli apa yang orang pikirin, orang benci padaku, nyinyir pada setiap perbuatanku yang penting hal yang kulakuin positif dan baik buatku.

Jadi intinya sih kebencian hanya akan menyakiti diri sendiri, menguras tenaga yang sebenarnya bisa dialihkan ke hal-hal yang lebih positif. Ya gitu deh, Mwehehe... Sok bijak ya?

Hehehe, ciao aja deh kalau gitu! Bye bye~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No provoking other commenters, insulting, using offensive words, spamming, copycat my post, lying about something, judging me by the way I talk, slander and be dramatic here. Thank you for your attention!