Tampilkan postingan dengan label internet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label internet. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Januari 2019

Ada yang Berbeda...

Kamu belum tahu jika belum mengalaminya sendiri. Begitulah yang sering dikatakan orang.

Ketika kita semua mencemooh mereka yang rakus dan tamak dan menganggap mereka bukan manusia karena rasa hausnya yang tak berkesudahan pada hal duniawi dan betapa mereka sangat lemah karena tak mampu mengendalikan hawa nafsunya sendiri... Hari ini aku sadar bahwa rasa serakah memang sesulit itu untuk dikendalikan.

Apalagi serakah tentang urusan hati. Argh!

Senin, 30 Januari 2017

Sakit Pinggang

Sudah 3 hari ini sakit pinggang di bagian belakang. Buat aktivitas sakit nyeri gimana deh, gak enak, kaku, dan menyebalkan. Sakitnya sih gak sakit banget, tapi ya sengkring-sengkring mengganggu gitu. Mau aktivitas jadi agak terganggu. Aku udah nunda nyuci baju gara-gara sakit pinggang ini. Akhirnya aku lebih sering tiduran mainan hape. Untung saja masih liburan, jadi gak ada tanggungan apa-apa. Apalagi kalau ubah posisi dari tidur ke duduk, atau dari duduk ke berdiri. Alamaaak... Kocak lagi pas sholat dari posisi beridiri ke posisi ruku'. Gerakannya yang biasanya mulus meluncur syuuut, jadi patah-patah kaya robot. Pelaan.. pelann.. turun dikit, turun dikit, yaak dikit lagi... Nah! dapet tuh posisi ruku'. Terus dari posisi ruku' ke sujud, lebih slow motion patah-patah lagi. Gitu terus sampai abis rakaatnya.

Sumber gambar
Bingung juga sih kenapa bisa sakit pinggang bisa selama ini, biasanya cuma sehari semalam habis itu udah ilang sendiri. Apakah karena mau menstruasi, kasur yang berubah (iya, berubah. Aku hampir 2 bulan libur dan tidur di kasur rumah yang bentuknya serta tekstur (?) kasurnya beda sama kasur di kosan) yang memberikan efek ke pinggang, kurang olahraga, kecapekan atau kurang minum? Gak tahu deh daaan seperti biasa, kalau udah sakit begini, aku langsung bom chat ibuku.


"Bok, boyokku lara"
"Bok, aku kudu piye?"
"Bok, bok, bok, huwe huwe huwe..."
"Huweeeee"


Kaya gitu. Persis, dengan 'huwe huwe' yang lebih banyak dan annoying.


Atas saran dan pencerahan ibuku, aku disaranin minum Neurobion, biar agak reda, dan emang ngefek sih. Shari diminum sekali. Selain itu aku oles-olesin pinggang pakai Counterpain. Sehari aku olesin 2-3 kali. Biar anget, dan ngebantu meredakan sakitnya. Hal yang agak mengganggu adalah bau salep Counterpain-nya. Baunya itu lho kayak bau embah-embah. Bau koyo gitu. Kalau aku gak keluar ke mana-mana aku gak masalah. Agak gak pede kalau keluar kosan buat beli makan. Semerbaaak coy. Mau disemprotin pakau parfum berkali-kali semprot juga kalah sama bau salepnya. Gak papalah, asal gak berasa nyeri aku rela bau ala embah-embah.

Sekarang udah hari ke-3 dan lumayan berkurang banyak. Walaupun masih ada nyeri-nyeri dikit. Yaa, bismillah. Semoga besok udah hilang dan bisa aktivitas normal lagi yeah.

Rabu, 17 Agustus 2016

Gerimis

Gerimis mulai turun. Biasanya aku suka hujan. Tapi malam ini tidak.

The less you care, the less you get hurt. Omongan ini emang bener. Semakin kamu peduli sama seseorang, sakit hati yang yang mungkin muncul karena orang yang kamu peduliin impact-nya makin besar. Makin sakit, makin nusuk.

Orang lain acuh sama kamu, ya kamu bisa bodo amat. Tapi ketika ini dilakuin sama orang yang kamu sayang, rasa acuh yang cuma sedikit, sedikiiit banget, rasanya bisa begitu sakit.

Sakit hati bisa jadi penyakit yang paling menyakitkan. Kamu jatoh, berdarah-darah, mungkin kamu masih bisa ketawa-tawa dan gak ada tangis yang menyertai. But it's different when someone hurt your heart. Sedikit luka di hati. Luka yang gak nyata, yang secara fisik gak kedeteksi, bisa bikin kacau, linglung, gak jelas, pikiran ke mana-mana, dan mungkin ada air mata.

Aku jadi kepikiran sama orang yang nekat bunuh diri karena patah hati. Bisa dibilang goblok, gak rasional. Tapi hari ini aku sedikit memahami bahwa rasa sakit karena patah hati itu bisa sangat menyakitkan. Seberapa banyakpun oksigen yang kamu hirup, sesak di dada itu tetap ada. Seberapa banyakpun tidur yang kamu lewati, kamu akan terbangun dengan mimpi buruk yang sama. Sakit, sakit yang benar-benar nyata.

Tapi entah mengapa, walaupun kamu udah sering disakiti oleh orang yang kamu sayangi, kamu tetap sulit untuk berhenti menyayanginya kan? Well, semacam candu?

Souce on pict

Hujan turun. Udara basah dan badanku mulai dingin. Tapi gak tahu kenapa mataku justru panas dan sembab.

Kamis, 04 Agustus 2016

Khilaf

Sudah lama nggak nulis blog, nih.

Semester 4 benar-benar menyita sebagian besar waktu. Saking sibuknya dengan laporan, tugas, praktikum, jadi hanya punya sedikit waktu luang. Waktu luang yang sedikit yaa dimaksimalkan untuk istirahat. Kalau dibandingkan dengan semeter 3, semester 4 justru laporannya lebih gila-gilaan. Materi yang dipelajari lebih spesifik, dosennya lebih ‘wow’ dan tugasnya juga suka dadakan. Yah mungkin karena udah terlatih ditempa dengan Bantex laporan Oseanografi Fisika di semester 3 jadi ngejalaninya fine aja. 

Dan tidak terasaa...

Syyuudah Idul fitri lagi aja nih! Yeay!

Mohon maaf lahir dan batin (sumber)
Kebetulan lebaran tahun ini bertepatan dengan libur akhir semester. Puas-puasin deh malas-malasan di rumah. Hahaha. Apalagi kalau lebaran, wah, momennya khilaf-khilafan. Selain maaf-maafan atas kekhilafan selama setahun ke temen-temen dan sanak saudara, juga jadi momen khilaf makan karena banyak makanan di rumah. Biasalah, anak kosan. Mana bisa makan gratis sebebasnya kalau di tanah rantau? Yoomaan.

Ngomong-ngomong tentang khilaf, jadi flashback ke kejadian beberapa waktu lalu seusai lebaran. Karena memang momennya pas banget antara libur kuliah dan lebaran, beberapa temen SMA ngajakin buat ketemuan Setelah janjian via chat, akhirnya kita nentuin buat ketemuan di salah satu mall di kotaku.

Pas di lokasi, setelah full team, kita agendain buat nonton film di bioskop dulu. Setelah dua jam berlalu, perut mulai keroncongan dan kita putusin buat makan di food counter. Sambil makan kita ngobrol ngalor-ngidul. Ngobrol.. ngobrol... ngobrol... Salah seorang temen nyeletuk, "Eh tahu gak kalau si X hamil?"

Jeng... jeng.. jeng...

Shock. Kaget. Ohmaigat.

Hamil? Sama siapa? Kapan? Gimana? Si X temen SMA yang satu kelas sama aku itu?
Berbagai macam pertanyaan langsung aku lontarin. Kaget, jelas kaget banget. Aku tahu bener siapa si X ini. Dia ini bukan tipe cewek nakal, yang bitchy ataupun cewek yang suka gonta-ganti cowok. Aku gak habis pikir sama apa yang terjadi. Setelah dengerin cerita temen-temenku dengan seksama, akhirnya terjabarkanlah kisah lengkapnya.

Si X ini punya pacar, dan dia sering bawa cowoknya ini ke kostan. Entahlah gimana sistem keamanan di kostan ini. Sebenernya kostannya itu kost-kostan cewek, tapi cowok bisa keluar masuk bebas gitu. Sering banget si X bawa pacarnya main ke kostan. Cowok dan cewek berdua doang di kamar kostan yang nyaman dengan kasur dan bantal yang empuk, kemungkinan apa yang akan terjadi? Mungkin mereka akan main dokter-dokteran, atau kuda-kudaan. Well, no. Mereka berdua khilaf.

Khilaf yang berujung pada tanggung jawab berat.

Si X hamil dan mereka berdua terpaksa dinikahkan oleh orang tuanya.

Yang ada dalam pikiranku saat itu membayangkan hal itu terjadi pada mereka, berat, pasti berat. Betapa berat tanggung jawab yang mereka pikul. Apalagi bagi si X, dia cewek, dia yang hamil. Sama sekali gak ada pikiran untuk nge-judge, 'salah sendiri main gak pakai pengaman' atau 'sukurin mau enaknya dulu'.

Karena aku tahu, mereka berdua bukan anak nakal. Bukan anak alay gak jelas. Apalagi si temenku X ini. Aku kenal sama dia. Dia temen sekelasku ketika SMA. Cewek manis yang rajin, supel, baik, patuh sama orang tuanya. Gak neko-neko istilahnya. Dia juga bukan cewek yang gampang dibegoin, dia cewek cerdas dan berani.


Tapi ya gitu... Mereka berdua manusia biasa. Mereka bisa khilaf. Tapi bukan berarti kita bisa menggunakan kata khilaf seenaknya, karena beberapa kesalahan diambil dengan keputusan yang sadar. Harus ada bentuk tanggung jawab yang mereka lakukan atas kesalahan yang mereka. Pada akhirnya mereka berdua bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Walaupun hal itu bukan menjadi apa yang orang tua mereka harapkan demi masa depan mereka.

Kamis, 28 April 2016

Setiap Hari di Semester 4

Semenjak masuk semester 4 aku jadi jarang banget ngepost dan punya waktu buat ngeblog. Sesekali buka blog cuma buat nge-check komentar masuk atau post dari beauty blog yang aku follow. Yaa mau gimana lagi, waktu yang aku butuhkan untuk ngetik satu post itu bisa aku pakai buat ngerjain pembahasan laporan satu halaman.
Segini tebelnya bisa buat gampar kepala orang -_-
Ngulang-ngulang perhitungan yang sama sampe punggung bergelombang

Yaaa, seperti itulah hari-hariku. Sibuk ngerjakan laporan. Aku ngetik ini dalam keadaan baru beres evaluasi praktikum, nungguin dibolehin pulang sama asisten. Nanti malam juga masih ada deadline laporan yang menunggu. Mau gimana lagi? Kata senior sih, 'nikmatin aja'. Mereka bilang gitu karena semester 5 nanti bakal gabut dan justru bingung mau ngapain. Efek aftershock, yang sebelumnya super hectic tiba-tiba sepi deadline. Gitu sih kata mereka.

Jadi, untuk saat ini satu-satunya jalan yang harus ditempuh yaa 'nikmatin aja'.

Rabu, 10 Februari 2016

Aku Sedang Gak Jelas

Source
Bulan Juni memang saat paling panas di Pulau Ujong. Sambil menatap ke sekeliling, kuteguk tetesan terakhir Pokariswet-ku. Aaahh, benar-benar negara kota yang damai dan teratur. Tampak beberapa petugas sedang bertugas. Meskipun cuaca sangat panas, wisatawan tetap membanjiri wilayah ini.

Kulihat diujung sana seorang wanita bersama anaknya tampak hendak berfoto di depan patung singa. Hihihi, betapa lucunya tingkah gadis kecil itu. Sang Ayah yang memfoto mereka mulai menghitung mundur "satu.. Dua... Ti..."

Bruuk!

Tiba- tiba pria itu jatuh sambil memegangi bagian dadanya, nafasnya tersengal-sengal...
"uuufftgghhh... To..loo..ngg"

Istri pria itu menjerit dan berteriak minta tolong sedangkan wajah si gadis kecil tampak kebingungan. Beberapa orang tampak ingin mendekat tetapi terlihat agak ragu. Kujatuhkan botol minumku dan segera kuberlari menuju pria itu. Namun belum sampai aku berada cukup dekat dengan mereka, seorang petugas datang dan dengan cekatan menolong pria itu.

"Fyuuh, untunglah!", kataku penuh rasa syukur. Tiba-tiba ada seorang lagi petugas mendatangiku. Ia berkata, "Tuan, silakan ikut saya."

Aku tertegun, ada apa ini? Sejenak kupandang petugas itu dengan agak bingung. Kemudian tersadarlah diriku...
"Ooh..", ucapku dengan lirih. Dalam hati dengan agak sedih aku hanya bisa berkata, 'aku rapopo, hiks'.


-Ummu Jeruk

Sabtu, 05 September 2015

Main Aman di Dunia Maya

Sumber gambar
Aku mengenal internet sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bapak lah yang mengenalkanku dengan jaringan yang menghubungkan seluruh komputer di seluruh dunia itu. Aku gak begitu ingat waktu itu aku duduk di bangku kelas berapa, kalau gak salah sih kelas empat atau lima sekolah dasar. Untuk bisa mengakses internet, kami harus pergi ke warnet. Satu-satunya warnet di kotaku kala itu adalah warnet milik kantor pos. Zaman segitu, internet gak secepat sekarang. Loadingnya cukup lama untuk memuat sebuah laman email yang tampilannya standard dan gak banyak gambar. Website yang paling suka kubuka adalah website milik perusahaan boneka perempuan tebesar di dunia yaitu Barbie. So excited! Ngeliatin gambar macam-macam boneka barbie yang terpampang di web.

Waktu berlalu dan pengguna internet makin banyak seiring dengan merajalelanya warung internet. Ketika aku duduk di bangku SMP, ngetren banget yang namanya jejaring sosial Friendster. Banyak temanku yang memiliki akun Friendster, demikian pula aku. Ada sebuah kejadian yang menarik kala itu, yaitu akun Friendster-ku diobrak-abrik oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Profil akun Friendster-ku diganti dan diisi dengan kata-kata tidak pantas. Untuk beberapa waktu aku gak sadar kalau akunku telah dimanipulasi oleh orang. Ternyata hal ini terjadi karena aku lupa menekan tombol log out. Untung saja akunku masih bisa diselamatkan. Kewaspadaan dan kehati-hatian ketika menggunakan internet mulai aku sadari sejak itu.

Privasi merupakan hal yang penting ketika menggunakan internet. Demi privasi, aku rela menghapus akun Facebook, Twitter, dan Instagram.
Sumber gambar
Kok sampai repot-repot ngehapus? Kenapa gak di-private aja?

Jadi gini nih... Ada beberapa hal yang mendasariku buat ngehapus akun media sosialku. Pernah ada kejadian yang enggak enak terjadi padaku. Cyber bullying lah bisa dibilang. Pas awal-awal Instagram lagi ngehits, aku gak ketinggalan buat punya akun Instagram juga. Namanya punya mainan baru pasti aktif banget ngepost foto, komenin foto orang, like sana like sini. Nah, aku kan nemu instagram orang. Aku komen deh di salah satu foto dia. Padahal, aku ngomennya baik dan sesopan mungkin. Yaa, mungkin aja dia gak nangkep atau gimana. Dia marah tuh. Terus dia ngambil foto di IG-ku dia post di akun dia, dan dikasih komentar jahat. Udah gitu temen-temennya juga ikutan ngebully di foto aku. Reaksiku jelas shock banget lah.

Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk menghapus Instagramku dan semua foto wajahku yang ada di dunia maya. Sebenarnya bukan karena trauma juga, tapi emang aku udah mikirin hal ini sejak lama. Demi keamanan. Apa lagi jaman itu juga ada kasus di mana orang ngambil foto dari akun medsos orang lain, terus digunakan untuk melakukan tindakan kriminal via media sosial.

Selain itu, aku juga gak mau orang tahu tentang diriku cuma lewat media sosial aja. Oke, mungkin aku bisa nge-private Facebook, Twitter, atau Instagram-ku dan hanya ngebolehin orang yang aku kenal buat join akses ke akun medsosku dan mereka bisa tahu kegiatanku lewat medsos. Justru aku gak suka kalau gitu. Aku pengen mereka bener-bener interaksi dengan aku, gak cuma sekedar.. Oh dia lagi gini.. Oh dia lagi di sana... Belum lagi nanti mucul prasangka buruk dari orang yang... Ih update mulu gak ada kerjaan idih...  Main mulu, pamer mulu nggak kuliah apa... dan sebagainya. Komunikasi antar manusia yang menurutku ideal ya yang dua arah, ngobrol. Minimal nge-chat lah, bertukar pesan. Gak cuma sekedar ngeliatin post orang, ngejudge, padahal tanya/ngomen aja juga belom. Sampai saat ini, aku cuma punya Path dan udah jarang update.

Terus demi keamanan pula, aku sampai bikin e-mail khusus buat login ke website-website yang butuh daftar dulu. Semacam e-mail fake. Aku hobi banget nonton film streaming, kadang kan kita harus login. Selain itu kalau mau download file di website tertentu kadang juga diminta buat akun terlebih dulu. Nah, ini gunanya e-mail fake. Coba kalau kita pakai e-mail utama yang digunain buat kerja. Yaa bisa berabe entar inbox penuh spam dan iklan gak jelas.

Aku bahkan nge-track nama aku sendiri di google buat mastiin identitasku di dunia maya gak tersebar bebas. Kalau aku coba ngetik nama lengkapku di Google akan banyak ditemuin hasil pencarian, tapi gak satu pun hasil pencarian di page-page awal yang merujuk ke akun yang berhubungan denganku. Baru kalau aku ngetik Ummu Jeruk, maka akan muncul blog ini dan blog-ku satu lagi yang berisi tugas-tugas sekolahku.

Klik untuk memperbesar
Kita mungkin udah ngerasa menggunakan internet secara baik, bijak, dan hati-hati tetapi masalah bukan hanya datang dari kita sendiri. Bisa juga dari orang lain. Di luar sana ada banyak orang yang akan bertindak jahat kalau ada kesempatan. Untuk itu tindakan pencegahan adalah hal yang utama.