Senin, 01 Desember 2014

Sirik Tanda Tak Mampu

Minggu lalu di kelas diberi tugas untuk bikin page di Facebook. Karena tugas itu juga, akhirnya harus buka Facebook yang udah usang karena emang udah jarang dibuka. 

Sejak dulu aku kan emang ngefollow pagenya Pak Darwis Tere Liye. Pas lagi baca-baca timeline, muncul deh post yang ngena banget (seperti biasa post Pak Darwis itu selalu ngena) sama keadaan yang sedang aku alami. Gini nih postnya (agak panjang sih) ....

          Saya itu, kalau lihat buku-buku dari penulis lain lebih laku, lebih banyak dibaca orang-orang, sementara buku-buku saya ditengok saja tidak, kadang sakitnya tuh di sini. Kesal sekali. Jengkel. Untuk kemudian dalam diam bertanya, disebut apa rasa sakit ini? Kenapa saya tidak turut bahagia melihat buku-buku penulis lain sukses? Aduh, jangan-jangan inilah yang disebut dengan "sirik"? Pun sama, saat melihat film-film orang lain lebih laku, berbondongbondong orang menonton, sementara film-film dari buku saya sepi, lagi-lagi sakitnya tuh di sini. Saya mulai terpancing menjelek-jelekan buku orang lain, film orang lain.
          Apesnya, setiap hari rasa sakit ini muncul. Bukan cuma karena buku atau film. Melihat orang lebih pintar, maka muncullah rasa sakit hati itu. Tidak suka. Benci. Sesuatu yang tanpa alasan. Melihat orang lain lebih berhasil, sukses, muncul lagi sakitnya. Bahkan dalam kasus tertentu, kenal juga tidak, bukan siapa-siapa kita, tetap saja tiba-tiba kesal. Terus-terang saja, saya bingung dengan rasa sakit ini. Kenapa sih dia harus muncul? Kenapa sih dia tidak bisa dikendalikan? Misalnya, ada orang jadi menteri, top sekali tiba-tiba, lantas saya mulai merasa belingsatan, mulai ilfil, untuk kemudian sibuk menulis hal-hal jelek tentangnya. Padahal buat apa? Saya kenal juga tidak dengannya, hampir semua informasi yang saya terima hanya dari baca di internet--yang belum tentu juga benar. Seolah-olah orang tersebut memang buruk semua isinya.
          Tapi baiklah, saya akan lupakan sejenak rasa sakit ini. Saya akan coba berpikir lurus sebentar. Kenapa sih saya harus sakit hati? Kenapa sih saya tidak suka? Kenapa? Kenapa? Saya tidak mau terus dihinggapi rasa sakit hati aneh ini.
          Setelah dipikirkan lama-lama dan lamat, mungkin nasehat orang tua dulu benar sekali. Sirik itu tanda tak mampu. Kenapa saya sirik? Boleh jadi karena saya tidak punya solusi lain selain sirik saja. Agar hati saya senang, maka saya memutuskan sirik, membangun tembok argumen. Boleh jadi, hanya sirik itulah yang bisa saya lakukan. Di luar itu, saya memang tidak mampu. Jangankan berbuat sama seratus persen, mencontoh 10%-nya saja saya tidak mampu. Aduh, malang sekali nasib saya. Membuat saya jadi termangu.
          Baiklah, tidak apa-lah saya sirik, namanya juga manusia. Tapi sekarang saya akan berjanji, lebih baik saya fokus memperbaiki diri. Tidak apa buku-buku saya tidak laku, tidak dibaca banyak orang, tapi saya akan terus belajar bagaimana menulis yang baik. Tidak mengapa juga film-film saya tidak laku, boleh jadi karena memang karya orang lain lebih bagus, maka lebih baik saya membuktikan kemampuan diri sendiri. Bekerja lebih giat, lebih kreatif.
          Setelah dipikirkan dalam-dalam, ketika orang tua dulu bilang, "sirik itu tanda tak mampu", mereka sepertinya tidak sedang mengolok-olok orang-orang yang sedang sirik--seperti saya. Mereka justeru sedang memberikan solusinya: "Nak, ayo, daripada sibuk sakit hati, menjelek-jelekan orang lain, terus mencari keburukan orang lain, lebih baik buktikan kalau kita lebih mampu. Ayo bergegas berlomba-lomba dalam kebaikan, agar dunia ini jadi lebih baik." Sepertinya demikian maksudnya. "Nak, tidak masalah kalaupun kau belajarnya lambat, kemajuan kau lelet sekali, karena yang jadi masalah itu kalau kita hanya diam saja, mangkrak. Hanya sibuk sakit hati dan berkomentar".
          Sepertinya nasehat orang tua ini benar. Baiklah, caiyo! Semangat!

Damn! Langsung maak-jleeb.

Boleh dibilang aku selalu punya masalah dengan yang namanya 'sirik'. Aku tahu kalau sirik itu sebenernya gak baik juga, tapi rasa iri itu pasti ada. Aku punya temen yang cantik, baik, udah gitu kaya, pinter lagi. Seneng punya temen kaya gitu, meskipun dia punya segalanya dia itu ramah dan baik suka nolong temennya pas lagi butuh bantuan, tapi di sisi lain juga iri dengan segala ke-perfect-annya dia. Mungkin aku bisa mencoba bertahap jadi baik, jadi pinter dengan belajar perlahan-lahan. Tapi jadi kaya dan super cantik? Ohmen, harus gimana coba?

Mungkin aku harus belajar untuk lebih ikhlas menerima segalanya yang Tuhan berikan padaku. Kita kan gak pernah tahu ada apa di balik semua kesempurnaan (dalam batasan manusia) yang dia punya. Siapa juga yang tahu kalau seseorang itu sebenernya tampak luarnya saja yang bahagia. Dalamnya hati siapa yang tahu, ya kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No provoking other commenters, insulting, using offensive words, spamming, copycat my post, lying about something, judging me by the way I talk, slander and be dramatic here. Thank you for your attention!